Belajar Bangun Desa-Ku, Menuju Kongres Nasional Anak Desa 2021

Mengawali tulisan ini, saya mengingat murid saya di Universitas Bandar Lampung Kota bandar lampung Provinsi Lampung. mahasiswa tersebut saat ini semester akhir dan memasuki masa studi menulis tugas akhirnya untuk mencapai gelar Sarjana Administrasi Publik.  Tema yang diangkat sebagai tugas akhirnya mengarah pada pengelolaan kelembagaan desa dalam bidang pariwisata. Saya pun banyak berdiskusi terkait tema yang diangkat oleh beliau. Diantaranya konsep, teori hingga pemetaan wawancara yang akan di lakukan pada informannya di desa.

Pertanyaan yang menarik saya sampaikan ke beliau yaitu, mengapa saudara mengambil tema tugas akhir di desa?, jawabannya sangat singkat bahwa tema ini saya angkat, karena saya mau belajar untuk membangun desaku. Jawaban itu membuat saya teringat dengan murid saya yang lalu di pascasarjana Untirta, setelah magister kembali ke desanya untuk bergabung di kantor desa dalam rangka ikut mengelola kelembagaan desanya.

Ketika anak-anak desa bermimpi untuk hijrah ke kota dan menetap di kota, namun murid saya yang kuliah di UBL tersebut, malah memiliki keinginan besar untuk kembali ke desanya. Mimpinya untuk membangun desanya sangat tinggi, karena beliau sangat berkeyakinan bahwa di desa memiliki potensi yang sangat besar untuk bisa dibangun. Penataan kelembangaan desa hingga penataan lembaga ekonomi petani dan lembaga-lembaga lainnya yang mengarah pada pembangunan mungkin masih dapat dilakukan oleh kalangan terpelajar seperti dirinya.

Cita-cita untuk kembali ke desa merupakan langkah yang sangat kurang diminati oleh anak-anak desa saat ini, hanya anak-anak yang memiliki semangat dan motovasi tinggi melihat peluang masa depan di desa. Membaca peluang di desa, bukan perkara yang mudah, karena berbagai keterbatasan yang dimilikinya. Tetapi kalau anak-anak memiliki kemampuan untuk menata dari awal, hal-hal apa yang akan dikembangkan dan perlu dilakukan inovas-inovasi dalam membenahi perkembangan desanya.

Membangun desa diera saat ini ada tiga hal yang perlu dimiliki oleh anak-anak desa, pertama memiliki dasar untuk mau hidup dari berbagai keterbatasan yang ada di desa, baik dari aspek pergaulan yang tentunya berbeda dengan kawasan perkotaan. Kehidupan yang terbatas dalam melihat perkembangan apabila dibandingkan dengan kawasan perkotaan; kedua sebagai kalangan yang terpelajar perlu memiliki ide, gagasan yang dapat dituangkan dalam bentuk inovasi-inovasi yang dapat mengubah kehidupan masyarakat desa. Ketiga masyarakat desa semaksimal mungkin dapat merasakan manfaat keberadaan para sarjana yang kembali ke desa.

Menanggapi ketiga hal itu, optimisme murid saya memberikan pandangan bahwa “Konektivitas bagi masyarakat desa, pada saat ini sangatlah membutuhkan buah pemikiran dari kalangan yang terpelajar. Desa memiliki struktur kelembagaan tata pemerintahan yang lengkap dan sesuai dengan perkembangan, namun untuk mengisi ruang-ruang kelembagaan tersebut sangatlah terbatas dari segi inovasi-inovasi secara operasional”.

Kalau membaca alur pikir beliau itu, saya menangkap benang merah pikirannya bahwa betapa besarnya Jiwa patriotismenya untuk ingin membangun desanya dan ingin membenahi berbagai ruang-ruang kosong yang perlu di isi melalui kehadirannya. Memabngun desa membutuhkan semangat, karena tantangan untuk membenahi sangatlah besar di era adanya kelompok-kelompok yang telah memasuki desa dalam pengelolaan sumber-sumber alam yang ada di desa. Untuk itulah tantangan yang besar itu membutuhkan dasar pikiran dan strategi apa yang harus dilakukan agar saudara membawa manfaat yang lebih besar di desa.

Murid saya pun menutup sesi obrolan saya melalui pernyataan, bahwa ide, gagasan strategi sudah matang dalam pikirannya dan tinggal akan melakukan secara operasional berdasarkan dengan pengamatannya selama ini dan juga akan menerapkan hasil riset karya ilmiahnya, agar bermanfaat sebagai seorang sarjana. Saya akan belajar membangun desaku. Selamat atas semangatmu, dan kita tunggu anak-anak desa yang telah melakukan riset di desanya dan kembali menerapkan hasil risetnya dan membantu pemerintah desa dan masyarakat desa dalam inovasi-inovasi berbasis riset. Semoga kalian semua menjadi anak-anak yang ditunggu kebermanfaatanmu di desamu masing-masing.

Suwaib Amiruddin (sosiolog)