Di Desaku “Saya Dan Kakaku” Alumni Magister

Tadi pagi saya kedatangan  5 orang murid saya, beliau merupakan alumni Magister Administrasi Publik (MAP) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Beliau merupakan mahasiswa yang berasal dari Banten bagian selatan, dan kampungnya dipenghujun selatan Banten. Kampung beliau apabila disebut, maka presepsi orang itu merupakan kampung yang sangat jauh dari kota provinsi (Kota Serang). Sehingga kalau orang dari kampung tersebut melanjutkan studi ke perguruan tinggi pasti orang selalu memberikan semangat dan motivasi agar tetap bertahan.

Pujian yang lainpun diucapkan oleh koleganya bahwa saudara sebagai mahasiswa sangat tangguh, dan apalagi menjalani pendidikan jenjang Magister. Benar saja kalau kolega atau teman kuliahnya memberikan apresiasi, karena apabila ada hari kuliah maka beliau dan rekan-rekannya berangkat satu hari sebelum kuliah. beliau pun menceritakan bahwa dalam proses menjalani perkuliahan berbagai tantnagan dan rintangan yang dihadapinya. Mulai dari jarak tempuh dengan mengendari sepeda motor roda dua dan berboncengan dengan temannya, mereka memulai dengan semangat dan tentunya berdoa sebelum berangkat dari desa (kampung halamannya) menuju kota Serang.

Sebagai mahasiswa program magister, beliau memiliki semangat yang sangat tinggi dan bahkan kuat untuk dapat menempuh studi agar tidak sampau 2 tahun untuk menyelesaikan kuliahnya. Ternyata semangatnya tercapai bahwa sebelum sampai 2 tahun beliau sudah menyelesaikan kuliahnya.  Saat ujian mempertanggungjawabkan tugas akhirnya (tesis) beliau memiliki keyakinan akan mampu melalui sidang dengan baik, dan benar terbukti beliau mampu meraih peringkat nilai dengan huruf A secara kumulatif.

Sebagai guru yang mendampingi beliau, saya hanya menyampaikan selamat atas predikat studi saudara yang sangat baik, dan saya hanya berpesan agar ilmu yang saudara dapatkan perlu ditularkan pada masyarakat yang lain di desanya. Dan terbukti belum diwisuda dan juga ijazah belum diperoleh dari lembaga kampus Untirta, sudah ada tawaran untuk beliau menjadi dosen pada salah satu perguruan tinggi swasta yang ada di Kabupatennya. Tadi pagi menemui saya dan menyampaikan bahwa saya sudah berhasil menyelesaikan studi dan mendapatkan tawaran menjadi dosen (staf pengajar).

Selain saya bangga akibat dari prestasi akademiknya, beliau berbisik pada saya, menyampaikan bahwa “di desa saya baru dua orang yang bergelar magister yaitu saya dan kakak saya”.  secara spontan saya menyampaikan apresiasi yang sangat tinggi pada keluarga beliau yang mendorong pendidikan anak-anaknya walaupun berada di desa yang terpencil jauh dari kota dan memiliki keterbatasan ekonomi. Dan kakak beliau saat ini mengabdikan dirinya pada negara sebagai pegawai di kecamatannya.

Makna yang dapat dipetik dalam perjalanan tersebut, bahwa tidak ada halangan yang berarti untuk mendorong anak-anak desa untuk tampil pada segmentasi jenjang pendidikan tinggi. Membenahi kapasitas sumber daya manusia, pada akhirnya akan menjadi agen perubahan di kampung halamannya.  Mengabdikan diri dikampung halaman merupakan suatu komitmen yang dimiliki oleh murid saya tadi. Dan bahkan beliau bercerita lagi bahwa saat ini 3 diantara 5 prang itu telah menjadi aparatur desa untuk membantu desanya pada segmentasi pembenahan administrasi keuangan dan pemerintahan di desa.

Modal nekat, modal kemauan dan modal pendanaan pendidikan semuanya dilakukan secara mandiri. Tekad untuk menyelesaikan studi dan meningkatkan kapaisatas sumber daya manusia harusnya dijadikan contoh bagi anak-anak desa. Komitmen masa depan anak-anak desa, seharusnya menurut mereka diperlukan mental dan dimulai dari kemamuan sendiri.

Menutup perbincangan saya, beliau menyampaikan suatu kalimat yang sangat optimis “bahwa desa akan mengalami kemajuan apabila sumberdaya yang ada di desa tersebut semakin banyak yang berpendidikan tinggi” , karena menurut beliau melalui pendidikan tinggi maka kita memiliki wawasan, kompetensi, dan kemampuan menganalisis persoalan yang terjadi di desa. Apabila kita sudah mampu melakukan analisis, maka secara otomatis dapat melakukan mapping masalah dan setiap masalah pasti ada solusinya.

Sebagai kolega diskusi, saya tentunya sangat apresiasi, karena dari desa ingin kembali kedesanya untuk memikirkan kemajuan desanya. Pertanyaanya kemudian bagaimana dengan anak-anak desa yang lagi studi di berbagai kampus di negeri ini, apakah siaap untuk mau kembali membangun desanya seperti beliau??

Selamat kepada semua alumni Magister Administrasi Publik yang berasal dari Banten Selatan, saya yakin saudara dianggap jauh dari ibukota provinsi Banten, bukan berarti bahwa peradaban kemajuan ilmu pengetahuan sulit terjangkau. Semangat menjadi pelopor membangun desa saudara-saudara untuk kemajuan negeri ini.