Inisiasi Buku Resolusi Konflik melalui Media Komunikasi Oleh Mahasiswa S3 Universitas Sahid

Jakarta (19/9), Program Doktor Ilmu Komunikasi (DIK) Universitas Sahid Jakarta menyelenggarakan bedah buku yang berjudul Resolusi Konflik melalui Media Komunikasi di Hotel Fave Jakarta Pusat. Buku ini disusun oleh mahasiswa kelas Resolusi Konflik di bawah bimbingan Dr. Suwaib Amiruddin, M.Si merupakan bunga rampai dari makalah yang dibuat mahasiswa DIK.
Ketua pelaksana bedah buku Ajeng Febriana menyampaikan, bahwa buku yang diluncurkan ini merupakan apresiasi tertinggi pengampu mata kuliah terhadap mahasiswanya. “Kami tidak pernah membayangkan bahwa karya kami semasa mengerjakan tugas kuliah diapresiasi dengan dibukukan seperti ini” ungkapnya.
Dr. Suwaib Amiruddin sebagai pengampu mata kuliah resolusi konflik program doktoral Universitas Sahid menyampaikan kepada peserta bedah buku bahwa setelah tugas kukiahnya dibaca dan ditelaah, sungguh sangat bagus apabila dibukukan mengingat karya mahasiswa DIK ini memiliki nilai kajian yang cukup serius dan solutif. “Sayang jika tugas kuliah ini dibiarkan begitu saja, isinya bagus-bagus, maka lebih baik karya mahasiswa dibukukan agar memiliki manfaat bagi orang lain, palinf tidak bagi yang membacanya” terangnya.

Bedah buku dihadiri beberapa elemen, yaitu mahasiswa doktoral Universitas Sahid, Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Sahid, dan wartawan. Pembedah buku ini dilakukan oleh tiga orang mahasiswa Doktor Ilmu Komunikasi yakni Aat Syafaat yang juga saat ini menjabat sebagai Direktur ANTARA, Agus Triyono yang juga Dosen Universitas Dian Nuswantoro Semarang, dan Rully.
Aat Surya Safaat sebagai pembedah pertama menyoroti maslaah hubungan internasional antara Indonesia dan Malaysia, menurutnya seringnya negara tetangga itu membuat ulah terhadap Indonesia ialah dikarenakan bergening posisi Indonesia yang lemah sehingga membuat negara lain kurang menghargai apa yang kita miliki, contoh kasusnya seperti reog dan batik yang tiba-tiba dipatenkan oleh Malaysia. Pemerintah Indonesia harus menunjukkan nilai tawar yang tinggi terhadap negara lain, agar mereka tidak sembarangan dalam memperlakukan kita. Disamping itu, Direktur Antara ini juga menyampaikan bahwa terjadi mis komunikasi antara pemerintah Indonesia dengan Malaysia. “Padahal komunikasi adalah bagian terpenting hubungan antar negara, inilah juga yang jadi turunnya nilai tawar kita dihadapan bangsa asing” ujar pria asal Pandeglang tersebut.
Pembedah kedua, Agus Triyono membahas terkait resolusi konflik Pemilihan Umum di Salatiga pada tahun 2017. Ia mengungkapkan bahwa penyelenggaraan Pilkada sangat rawan konflik, terutama di wilayah tingkat akar rumput atau TPS, karena disanalah masyarakat secara langsung berhadapan. “Kota salatiga itu kota kecil di jawa tengah, namun memiliki potensi konflik cukup tinggi. Pemantiknya ialah tidak jauh dari persoalan surat suara, money politic dann hasil pemilu yang berselisih sempit, kemenangan pemenang pemilu disana kurang dari 2%” katanya. Untuk itu perlu banyak solusi dalam perhelatan pilkada dimanapun, seperti integrasi teknologi dalam pemilihan umum, kemudian integrasi yang perlu diperkuat bagi penyelenggara pemilu, dan mematangkan kajian permasalahan pemilu terdahulu, sehingga dapat diantisipasi pada pemilu berikutnya.
Pembedah terakhir yaitu Rully juga di Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT) membicarakan Politisi dalam Media Sosial. Menurutnya saat ini media sosial merupakan sarana komunikasi yang sangat efektif di era keterbukaan informasi. Kemassifan media sosial sangat mempengaruhi tatanan masyarakat saat ini, terutama Politik.
Politisi banyak melakukan kampanye dan pencitraan tidak hanya secara langsung, akan tetapi juga dilakukan di media sosial. “Saat ini banyak sekali politisi yang sangat aktif bermain media sosial, karena karakter masyarakat dan budaya elektoral masyarakat saat ini mulai bergeser, semua serba daring” paparnya.
Rully mengungkapkan kebebasan dalam dunia maya saat ini berjalan secara demokratis, namun harus ada kendali, karena informasi berlebihan juga salah satu penyebab konflik. Permasalahan perang medsos juga sebetulnya tak jarang berasal dari postingan politisi itu sendiri, karena politisi merupakan opinion leader.
“Dalam mengendalikan diri media sosial, kita harus lebih bijak, tidak mudah percaya akan informasi yang ada, harus diverifikasi terlebih dahulu, pemerintah harus memberikan solusi terhadap pengguna media sosial, seperti China misalnya, mereka memblokir Facebook dan Youtube namun mereka membuat media sosial sendiri” tutup Rully. (Zy)