Komitmen Presiden Penggerak Petani, Pasti Ibuku Sangat Senang

Salah satu kegembiraan saya setelah membaca salah satu media online, dan terus terang saya tidak mendengar secara langsung. Pragraf yang menarik pada berita tersebut kurang lebih seperti ini kutipannya “Kepala Negara menyebut, ke depannya petani dan nelayan perlu didorong untuk berkelompok dalam jumlah yang besar dan berada dalam sebuah koperasi”

Makna ucapan itu memberikan optimisme yang penuh semangat tentang kepastian hidup bagi petani dan nelayan pada masa yang akan datang. Berita yang saya baca itu dituliskan pula “Dengan begitu, akan diperoleh skala ekonomi yang bisa mempermudah petani dan nelayan dalam mengakses pembiayaan, mengakses informasi, mengakses teknologi, meningkatkan efisiensi dan memperkuat pemasarannya. “Pola pikir juga perlu berubah tidak semata-mata fokus kepada on farm tapi bergerak ke out farm, sisi pasca panen, sisi bisnisnya yaitu dengan membangun proses bisnis dari produksi sampai ke pascapanen”.

Kalau itu terealisasi, saya teringat pada era tahun 80-an, ibu saya mengalami kondisi yang sangat bahagia dan penuh semangat bekerja di ladang. Sebagai petani tulen berpendidikan rendah, saat itu memperoleh perhatian dari pemerintah terkait akses kebutuhan bibit unggul dan pupuk secara gratis dan hampir semua petani yang ada dikampung saya. Petani saat itu, dibuat secara berkelompok dan saling memberikan masukan satu sama lain untuk meraih keberhasilan panen dan bertrukar pendapat tentang bercocok tanam.

Budaya gotong royong saat itulah menghasilkan keakraban sesama petani dan saling menolong atas kesusahan yang dihadapi diantara sesamanya. Misalnya petani saat itu terbatas teknologi dan alat bantu pertanian untuk menggarap sawah maupun ladang. Maka petani yang lain ikut hadir untuk secara bergotoing royong dan saling bergantian untuk membuka lahan yang akan ditanami milik tetangganya dan begitu pula dengan milik ibu saya.

Perkembangan zaman telah berlalu, eranya pun telah bergeser dari budaya alat pertanian secara manual dan mengandalkan tenaga manusia, kini beralih pada penggunaan teknologi traktor dan alat pertanian lainnya yang digerakkan dengan teknologi mesin. Kehadiran ucapan presiden Jokowi melalui berita tersebut, bahwa petani diberikan kemudahan akses teknologi tentu perlu disambut dengan baik. Persoalannya kemudian petani menghadapi bukan hanya keterbatsan teknologi, namun persoalan irigasi pun sangat terbatas untuk diakses oleh petani. Seharusnya juga Presiden menyampaikan bahwa akan diperluas akses irigasi sehingga tidak ada lagi lahan persawan yang tandus, dan hanya mengandalkan curah hujan. Kondisi lahan tadh hujan itulah yang dihadapi oleh ibu saya di sebuah wilayah Empoang Selatan kabupaten Jeneponto Sulawesi selatan, dan mungkin juga ada di wilayah lainnya di negeri ini.

Mengubah perilaku dan pola pikir petani sebenarnya tidak terlalu sulit, apalagi kalau petani tersebut dikembangkan atas apa yang dikerjakan selama ini. Dan atau apa yang telah ditekuni dan diproduksi selama ini. Persoalannya kemudian petani saat ini telah bergeser lahannya menjadi kawasan pembangunan dan kepemilikan secara individu kelompok pemilik modal yang hingga membeli lahan di desa dan membiarkan lahan tersebut menjadi lahan tidur. Secara kuantitatif saya tidak punya data secara rill berapa luasnya yang alih fungsi kepemilikan dan tidak dikembalikan fungsinya sebagai lahan pertanian seperti sebelumnya.

Mengembalikan fungsi lahan sebagai lahan pertanian dan bagi petani, inovasi jenis tanaman apapun saya kira petani mau melakukan, asalkan pemerintah memiliki kemauan untuk bersama-sama membangun sektor pertanian dari hulu ke hilir dan memberikan kepastian pemasaran hasil pertanian. Apalagi menurut Presiden pemerintah akan mengarahkan petani menjadi petani yang potensial berbasis bisnis mulai dari penanaman hingga pada pemasaran. Konsep ini saya kira sangat perlu diapresiasi, semoga ibu saya juga bisa ikut menjadi petani sukses apabila program pemerintah tersebut bisa sampai dihadapan beliau (saya Cuma ikut mendoakan..semoga).

Kalua hal ini disampaikan pada ibu saya, pasti beliau setuju walaupun ibu saya bukan petani yang pragmatis (jalan pintas) dan ikut-ikutan trend apa yang dianggap laku di pasaran, maka petani berpindah untuk bercocok tanam yang dianggap lagi laku dipasaran dan mudah penjualannya. Ibu saya adalah seorang petani “ortodok” yang sering mengikuti kondisi alam dan kebiasaan menanam padi pada musim hujan dan menanam kedelai dan jagung dimasa pasca panen karena tanahnya masih dianggap subur dan masih tersimpan air dari sisa hasil tanaman padinya. Situasi ini mungkin juga ada petani lainnya di desa-desa terutama yang menghadapi krisis air irigasi mengikuti pola “ortodok” ibu saya tersebut.

Kejayaan negeri ini saya setuju kalau dibangun dari sektor pertanian, dan saya sangat apresiasi atas kemauan Bapak Persiden RI Joko Widodo untuk melakukan konsoslidasi secara internal kelembagaan negeri ini untuk berpihak pada petani dan nelayan. Bukankah sejarah mencatat bahwa masuknya penjajah di Indonesia memiliki orientasi untuk mengejar hasil tanaman, dan rempah-rempah yang dihasilkan bumi negeri kita yang tercinta ini. Bangun desa dan bangun pertanian dan hasil laut dikelola dengan baik, serta memberikan kepastian dan harapan kebahagiaan bagi petani dan nelayan, pasti kita akan kuat dan menjadi bangsa yang lebih maju.

Suwaib Amiruddin

Sosiolog