Kongres Nasional Anak Desa, Gagasan Pemerataan Membangun Desa

Seminggu yang lalu saya kedatangan tamu dan sekaligus juga teman diskusi, dan sudah lama saya tiadk bertemu. Beliau juga merupakan alumni fakultas pertanian Untirta, dan telah menyelesaikan studinya Magisternya pada Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Pada saat kuliah di Untirta beliau merupakan aktivis yang mumpuni, dan menggagas berbagai kajian-kajian secara intelektual semasa berada di kampus Untirta. Pada masa kuliahnya beliau juga sering datang di rumah buku saya (Rumah Buku SAF) untuk berdiskusi membahas berbagai persoalan-persoalan desa. Mengapa saat itu, kita banyak fokus  membahas kondisi di desa, karena beliau mengambil fakultas pertanian, dan ilmunya juga banyak menyangkut sektor kelembagaan desa dan petani.

Sebagai teman diskusi saat itu tidak melihat strata dalam beradu argumentasi terkait konsep-konsep pemberdayaan petani dan desa. Bahkan diskusi kita berujung pada rekomendasi, namun tidak tertulis. Ingatan-ingatan itu saya diskusikan kembali apa yang pernah di bahas pada masa itu. Saya berdiskusi dengan beliau jauh sebelum undang-undang No 6 tahun  2014 tentang desa yang mana pemerintah menurunkan APBN untuk desa dengan jumlah puluhan Triliyun Rupiah dan bahkan desa kebagain antara 800 juta- 1,2 Milyar Rupiah. Waktu itu memang sempat kita diskusikan bahwa sebaiknya desa secara otonom perlu di bantu anggaran APBN agar terjadi pemertaan pembangunan desa di Indonesia. Hal itu terbukti hari ini walaupun kita hanya senyum-senyum mengingat hasil diskusi saya dengan beliau sekitar tahun 2012 yang lalu.

Kedatangan beliau saya kaget karena beliau datang setelah saya shalat magrib dan menggunakan jeans warna hitam, baju hitam dan sepatu ala petani warna hitam pula. Dulu masih menggunakan motor yang sangat tua dan sering juga mogok, namun datangnya kali ini sudah menggunakan motor yang sangat keren dan keluaran terbaru, pokoknya sangat kereen penampilannya. Yang menarik yang harus saya tanyakan mengapa masih berpenampilan ala petani di malam hari?

Jawabanya sangat singkat kalau saat ini “saya sudah menjadi tenaga pendamping petani di tingkat kabupaten di Banten”. Jawabannya itu membuat saya semakin kagum karena seorang alimni Magister mau terjun langsung di tingkat petani untuk membina dan mendampingi petani. Kalau menurut saya ini merupakan tugas yang sangat mulia bagi seorang anak desa yang terpelajar kembali mengabdikan dirinya di desa pula.

Beliaupun memperbaiki posisi duduknya, lalu menyapa bagaimana kabarnya partenr diskusiku?, saya menyambut hangat sangat baik. Lalu beliau apa agenda lembaga Suwaib Amirudin Foundation (SAF) saya pun menjawab bahwa saat ini kita lagi konsentrasi menyiapkan Kongres Nasional Anak Desa. Apresiasi sangat baik dari beliau, dan menganggap sangat penting kegiatan ini, karena menyangkut kehidupan masyarakat di desa yang saat ini banyak mengalami pergeseran nilai-nilai.

Mengapa penting? Menurut beliau, selama ini belum pernah ada forum yang dapat mewadahi gagasan anak-anak desa untuk dijadikan sebagai rujuakan dalam mebangun desanya. Bukankah untuk membangun desa, tentunya harapan terbesarnya adalah anak-anak desa kembali ke kampung halamannya untuk ikut berpartisipasi mengambil bagian yang dapat dilakukan sesuai dengan bidang ilmunya dan kemampuan apa yang dimilikinya.

“Seperti saya saat ini, kembali ke desa mengabdikan diri karena adanya tuntutan dari pemerintah untuk dapat mendampingi para petani di desa. Dan saat ini saya kembali di kabupaten saya untuk mengabdi dan mendampingi petani melalui program pemerintah. Sebenarnya kalau alumni-alumni sarajana yang sudah menyelesaikan studi di kota, dan mau kembali ke desa dan membantu pemerintah desa dalam merencanakan pembangunan, saya rasa itu sangat di butuhkan.

Semangat beliau mengajak anak-anak desa untuk dapat kembali ke desa, itu karena fakta dilapangan ditemukan minimnya pemikir-pemikirt pembangunan di desa. Mengapa minim sumber daya di desa, karena menurut pengamatan beliau, anak-anak desa yang memiliki kemampuan sumber daya manusia, itu tidak bergerak setelah sampai di desa. Padahal desa sebenarnya membutuhkan akses untuk dapat terhubung dengan wilayah luar desanya, namun keterbatasan sumber daya manusia di desa menyebabkan desa lambat melakukan pergerakan.

Seperti dicontohkan beliau, bahwa sebagai tenaga pendamping desa, dapat mengetahui persoalan dari dalam tentang apa yang dirasakan oleh desa. Selama ini pemerintah menurunkan anggaran melalui program dana desa, namun tidak terkelola dengan baik karena minimnya panduan dan arahan dari ahli dan anak-anak desa yang memiliki gagasan tentang pembangunan yang terjun langsung di kampung halamannya. Minimnya kelembagaan desa yang dapat mendorong percepatan pembangunan desa itulah, sehingga berapa pun jumlah anggaran yang diturunkan di desa tidak dapat maksimal terlaksana dengan baik.

Pembinaan petani berbasis pendampingan yang dilakukan oleh beliau, secara operasional sangat dirasakan dampaknya oleh petani. Dalam memutuskan suatu program di desa maka terlebih dahulu melakukan pendalaman masalah berdasarkan realitas dilapangan, terutama hal-hal yang dibutuhkan oleh petani. Pembicaraan secara internal dengan petani, dilakukukan agar apa yang sudah diprogramkan dapat terlaksanana dan termanfaatkan untuk jangka panjang.

Secara sosiologis bahwa kebutuhan masyarakat di desa yang sangat mendesak untuk diberikan adalah tenaga pendampingan agar kelompok-kelompok yang terbentuk memiliki arah yang jelas. Hubungan timbal balik antara petani dan pendamping desa merupakan hubungan yang saling membutuhkan. Tenaga pendamping desa dibutuhkan anak-anak yang cerdas dan berlatar belakang sarjana yang sangat diharapkan untuk kembali ke desa, agar masyarakat desa bisa lebih percaya diri untuk memajukan desanya. Melalui wadah kongres nasional anak desa dapat dijadikan sebagai wadah motivasi bagi anak-anak desa yang sudah memiliki kapasitas intelektual.

Terima kasih teman diskusiku sudah kembali lagi dirumah kita dan saudara menawarkan gagasan agar kongres nasional anak desa ini dapat dijadikan sebagai wadah motivasi pembangunan yang merata bagi desa. Dan akhir saran saudara saya persempit jadikan tema tulisan ini.

Suwaib Amiruddin

Sosiolog