Pecat Endang Sebagai Ketua Dewan, Sosiolog Ini Prediksi Suara Golkar Cilegon Akan Makin Merosot

CILEGON— Keputusan DPD Partai Golkar Cilegon melakukan Pergantian Antar Waktu (PAW) Ketua DPRD dari Endang Effendi ke Isro Mi’raj pasca kekalahan di Pilkada lalu, dinilai oleh kalangan akademisi sebagai bentuk blunder dari partai berlambang beringin tersebut.

Diketahui, DPRD Kota Cilegon melakukan Sidang Paripurna PAW Ketua DPRD berdasarkan usulan dari DPD Partai Golkar Cilegon pada Senin, (1/3/2021).

“Saya kira memang partai ini perlu belajar juga ya, bahwa Pilkada itu kan bukan suatu hal yang perlu dilakukan pecat memecat gitu. Menurut saya sih Endang ini kader yang baik di Golkar, membesarkan partai,” kata Sosiolog Universitas Tirtayasa,Dr Suwaib Amirudin, kepada wartawan.

Menurut sosiolog yang berkarier sebagai dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik dan telah memperoleh penghargaan Tanda Kehormatan Satyalancana Karya Satya ini, meski dalam statusta internal partai bisa melakukan tindakan atau keputusan etik kepada kader yang dianggap melakukan pelanggaran, itu sah-sah saja. Namun dalam kasus pemecatan Ketua DPRD Cilegon ini, diambil terlalu cepat dan tidak mencederai Golkar sebagai pemenang Pemilihan Legislatif 2019 yang kemudian kalah dalam Pilkada 2020.

“Itu suatu kewajaran, tapi dalam hal ini menurut saya Partai Golkar jangan mengambil langkah-langkah yang terlalu cepat mengambil momentum ini. Harusnya berikan dulu saudara Endang menjalankan tugasnya, dia mendapatkan suara yang banyak, ini jangan diabaikan,” terangnya.

“Harusnya didinginkan dulu situasinya, sehingga partai itu bernafas,” imbuhnya.

Saat disinggung dampak dari keputusan tersebut, Dr. Suwaib menilai kerugian akan besarnya potensi kemerosotan suara Golkar Cilegon pada Pemilu berikutnya.

“Kalau pasca pemecatan ini kemudian ada perpecahan, ini bisa menjadi jatuhnya suara partai, mulai dari jatuhnya semangat kader-kadernya. Bisa saja suadara Endang ini pindah ke partai lain, ini preseden buruk buat partai, citranya juga buruk. Artinya kaderisasi tidak jalan,” jelasnya.

Bahkan, selain adanya potensi perpecahan di dalam internal partai, akademisi senior di Untirta ini menilai dominasi Golkar selama dua dekade terakhir bisa tergeser oleh partai lain karena keputusan yang sifatnya tergesa-gesa dan kurangnya pertimbangan.

“Harusnya biarkan dulu pelantikan dan pemerintah berjalan, kemudian ada mungkin hal-hal yang kurang baik dalam mengawal eksekutif, baru itu soal etika. Dan ke depan bisa terjadi pemurunan perolehan kursi karena pupusnya kader terbaik,” ujarnya.

“Bu Ati kan menjadi ketua partai, tidak selamanya harus duduk di pemerintahan. Golkar butuh sosok Endang untuk mengawal pemerintahan. Harusnya dipanggil baik-baik dan dibicarakan secara internal. Dan kalau kadernya keluar bisa menurunkan prestasi,” tegasnya.

Sebelumnya, kritik dan prediksi akan merosotnya perolehan suar Partai Golkar Cilegon juga disampaikan oleh kader dan elemen masyarakat yang kecewa terhadap keputusan dari pimpinan DPD Partai Golkar Cilegon. (*red)/ Humas SAF

Sumber: https://www.wartaalbantani.co.id/