Penyebaran Hox Di Medsos, Kategori Kejahatan Etika

Fenomena sosial terkait pulikasi konten media sosial (medsos) yang terpublikasi secara bebas, dan bisa diakses tanpa batas telah meresahkan masyarakat. Keresahan masyarakat itu, bukan tanpa alasan dan bukan tanpa sebab. Publikasi konten media sosial itu, sudah masuk mengisi ruang sendi-sendi pelanggaran nilai-nilai, norma-norma yang berbasis pada etika. Nilai kesopanan dalam menyampaikan pendapat, nilai intelektualitas yang bermoral telah tercoreng, dan hingga pada nilai kemanusiaan tidak mengedepankan moralitas.

Situasi itulah, sangat wajar dan sangat dimaklumi sekiranya masyarakat sudah mulai marah atas perlakuan individu maupun kelompok tertentu yang menyampaikan konten-konten di media sosial yang tidak bermoral. Bahkan dapat menjerumuskan generasi muda yang menggunakan media sosial sebagai wadah untuk berinteraksi. Apalagi saat ini, diera informasi global masyarakat sudah berbondong-bondong menuju ke wilayah media sosial untuk melakukan interkasi sosial dan proses sosial.

Kondisi masyarakat yang sudah menjadikan media sosial sebagai rumahnya, tentu perlu ditata sedemikian rupa, sebagaimana kondisi masyarakat di dunia nyata (=secara badaniah) yang melakukan interkasi sosial secara badaniah. Interaksi secara badaniah, memiliki tata krama, rambu-rambu dan etika. Seyogyanya juga dalam kondisi interaksi dengan masyarakat di dunia maya (=dunia media sosial), harus juga memiliki tata krama dan etika yang baik. Pada kondisi masyarakat dunia nyata interaksi sosial memiliki etika dan tata krama yang tidak tertulis namun menjunjung tinggi nilai-nilai kemanuisaan.

Kemampuan yang dimiliki untuk menyampaikan pendapat, lalu dikembangkan menjadi opini dan didorong pada posisi konsumsi massa, kemudian akhirnya seolah-olah sudah bagian dari pembenaran. Lucunya lagi, konten-konten yang dianggap diminati masyarakat dengan melihat jumlah pengikut, dan seolah-olah menjadi pembenaran opini. Jadi posisi opini yang benar, hanya mengejar pemeringkatan pengikut sebanyak-banyaknya tanpa melihat nilai konten opininya.

Realitas pengguna media sosial saat ini, secara kualitatif, tersimpulkan bahwa ditemukan beberapa konten yang meresahkan masyarakat dan mengabaikan prinsip-prinsip nila kemanusiaan. Alasan pemicunya adalah terbukanya kebebasan berpendapat dan kebebasan menyampaikan informasi dihadapan publik. Regulasi dan berbagai peraturan sudah dikeluarkan oleh pemerintah baik UU dan maupun peaturan pemerintah, namun tetap tidak menjadi aspek jera bagi pelaku kejahatan medsos.

Perang melawan pelaku konten media sosial yang melanggar nilai-nilai, norma dan etika, seharunya sudah harus dilakukan. Gerakan perlawanan itu, seharunya bukan saja pemerintah, namun semua elemen masyarakat. Dukungan secara individu, kelompok dan organisasi perlu menyatakan sikap untuk menyuarakan konten medsos yang tidak beretika dan bermoral merupakan kejahatan yang mengganggu kehidupan sosial kemasyarakatan dan kalau bisa dianggap sebagai kejahatan luar biasa dan harus di tertibkan dan diproses secara hukum.