PERLUNYA, MENUJU KONGRES NASIONAL ANAK DESA 2021

Beberapa hari yang lalu saya memberikan kuliah secara daring dengan mahasiswa semester satu Fisip Untirta. Dalam kuliah itu saya sempat membahas tentang wacana kondisi desa saat ini. Lalu saya bertanya pada murid-murid saya yang hadir saat itu sebanyak 123 orang mahasiswa. Pertanyaan saya adalah apakah kalian ada yang berasal dari desa?, dan sekitar 80% menjawab kalau mereka berasal dari desa. Mendengar jawaban itu saya langsung memberikan komentar lolucon “berarti kalian ini wajah-wajah desa semua yah?, dan serentak menjawab betul pak” sambil tertawa dan penuh semangat menjawab, sampai kondisi forum jadi riuh. 

Mendengar jawaban itu, lalu saya menyampaikan bahwa kalian semua itu, walaupun berasal dari desa, namun tetap memiliki prinsip dasar untuk mengubah diri kalian, dan membekali ide dan gagasan kalian sebanyak-banyaknya dan setelah bekal kalian sudah ada, maka kembalillah ke desa masing-masing untuk membangun desanya. Desa saat ini membutuhkan anak-anak pintar untuk membantu orang tua kalian dalam menata akses kebutuhan petani dan akses kelembagaan ekonomi desa.

Mengapa dibutuhkan penataan akses kebutuhan petani, karena petani merupakan ujung tombak ketahanan pangan negeri ini. Untuk memperkuat posisi petani, maka dibutuhkan akses pupuk yang murah dan irigasi yang memadai. Selain itu lahan pertanian dan persawahan harus dipertahankan, dan jangan sampai lahan persawahan berubah menjadi kawasan industri dan permukiman. Kalau alih fungsi lahan dilakukan maka berakhirlah nasib petani dan kehilangan mata pencaharian bagi anak-anak petani dan bisa mungkin akan kehilangan harapan hidunya menjadi orang-orang yang sejahtera.

Kelembagaan ekonomi desa perlu juga ditata dengan baik. Sebagaimana amanat pemerintah pusat untuk memberikan kewenangan pada desa dalam pengelolaan anggaran yang cukup besar, dan salah satu pointnya menumbuhkan kelembagaan ekonomi desa. Secara realitasnya hampir tidak berjalan dengan baik, sehingga ada wacana anggaran desa akan di hapus oleh pemerintah pusat. Sebenarnya kalau menurut hemat saya, bukan anggarannya yang dihapus, namun dibutuhkan sumber daya manusia yang mumpuni dalam mengelola anggaran tersebut.

Mengembalikan anak-anak desa yang sudah menimba ilmu di perguruan tinggi, merupakan solusi yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah. Kalau menurut hemat saya ada tiga hal cara yang harus dilakukan pemerintah untuk meminta anak-anak desa membangun wilayahnya pertama memberikan modal padat karya pada anak-anak desa dan di integrasikan dengan tiga kementerian yaitu kementerian pertanian, pariwisata dan ekonomi kreatif, dan kementerian desa untuk melakukan inovasi hasil pertanian. Kedua membangun jaringan internet hingga ke desa-desa agar dapat mempublikasikan sumber-sumber desa yang dapat di pasarkan secara luas, baik berupa hasil kreativitas dan produk anak-anak desa. Misi ini, sebenarnya dapat di integrasikan dengan kemeterian informasi dan komunikasi, dan kementerian perdagangan agar akses pemasaran dapat terbuka lebar melalui pemasaran online.

Ketiga memberikan akses untuk menjadi tenaga pendamping melalui program sarjana masuk desa dengan berbagai tanggunjawab yang dibebankan untuk memajukan desa. Anak-anak pintar yang sudah menyelesaiakn studinya, dapat diminta kembali dan difasilitasi oleh kementerian BUMN, kementerian Pendidikan dan  kebudayaan dan Bappenas dan lain-lain.

Memajukan desa sebenarnya bukan perkara yang sulit, sepanjang  semua kementerian mengambil andil dan peran untuk dapat mengajak anak-anak desa untuk memberikan beban dan tanggungjawab berdasarkan keahlian dan keilmuannya baik kompetensi secara akademik dan maupun kemampuan berdasarkan pengalaman aplikatifnya sejak dibangku kuliah. Kongres anak desa sebagai wadah untuk menyatukan gagasan sebagai solusi untuk memperkokoh akar desa.

Suwaib Amiruddin 

Sosiolog Untirta