Program Sudah Berjalan dan Dekat Dengan Masyarakat, Tatu – Pandji Dinilai Lebih Unggul

KABAR BANTEN – Akademisi sekaligus Sosiolog Untirta Suwaib Amirudin menilai pasangan petahana Ratu Tatu Chasanah – Pandji Tirtayasa masih akan unggul dalam pilkada serentak Kabupaten Serang 2020. Menurut Suwaib hal itu karena sebagai petahana pasangan yang diusung 10 partai politik tersebut dinilai memiliki modal program kerja yang sudah dilaksanakan dan berjalan baik serta kedekatan sosoknya dengan masyarakat.

“Kalau saya kira ini awalnya saya memprediksi akan calon tunggal, tapi saat ini muncul Pak Eki – Nasrul di kubu lain. Ini sebenarnya agak hangat perterungan karena dua calon, pasti para pendukung juga sudah kelihatan hitam putih, mana kubu Ibu Tatu dan kubu Pak Nasrul,” ujar Akademisi Untirta Suwaib Amirudin kepada wartawan belum lama ini.

Suwaib menjelaskan, jika menilik pertarungan pilkada serentak di Kabupaten Serang, ia memprediksi kemungkinan besar petahana punya peluang besar untuk menang. Sebab pasangan tersebut dinilai masih kuat dan selama ini sudah melakukan kerja yang lumayan lama di Kabupaten Serang yakni dimulai menjadi Wakil Bupati Serang hingga menjabat sebagai bupati saat ini.

“Kalau misalnya pada masa Pak Taufik (Ayah bakal calon Wakil Bupati Serang Eki Baihaki) jadi bupati dan sampai sekarang masih ada kedekatan kuat dengan pendukung itu bisa dimanfaatkan juga oleh Pak Eki Baihaki. Tapi persentase tidak terlalu besar dibanding Bu Tatu yang sudah punya kerja keras nyata di Kabupaten Serang, kalau Pak Eki ingat bapaknya oleh masyarakat Serang bisa juga jadi magnet Pak Eki dengan Nasrul,” ucapnya.

Namun, kata Suwaib, persoalan kemudian, apakah dinamika politik dimasa ATN duduk sebagai bupati ada perbedaan yang harus dilihat. Sebab menurut dia, sejak ATN berhenti menjadi bupati, konsolidasi penyiapan anaknya sebagai pemimpin dinilai tidak terlalu serius. “Tapi yang jelas bahwa Ibu Tatu ini sudah punya lawan yang menurut saya perlu di perhitungkan karena latar belakang Pak ATN,” ucapnya.

Ia mengatakan, jika saat ini ditanyakan pada masyarakat apa yang paling terasa dari kebijakan yang dilakukan Tatu, satu hal yakni perbaikan jalan. Sebab berdasarkan beberapa masyarakat yang pernah ditemuinya ada beberapa wilayah yang puas dengan pembangunan jalan tersebut.

“Tapi namanya kerja itu tidak bisa dinilai 100 persen, yang jelas ibu Tatu sudah melakukan kerja nyata di hadapan masyarakat Kabupaten Serang tinggal dinilai apakah beliau masih layak jadi bupati atau tidak. Dibanding kubu sebelah, belum ada karya nyata secara struktur yang dibangun tapi mungkin ada kegiatan beliau yang sifatnya sosial dan memberikan makna bantuan pada masyarakat,” tuturnya.

Selain itu kata dia, keuntungan lain dari petahana yakni ia sudah memiliki basis masa struktur mulai dari desa hingga kecamatan. Kemudian kata dia, masyarakat pada umumnya merupakan kalangan masyarakat yang mudah berterimakasih, sehingga jika mereka sudah tersentuh pembangunan dan pemimpin atau calon tersebut minta tolong untuk dukungan, masyarakat akan memberi apresiasi kepada orang yang sudah memberikan sesuatu tersebut.

Disinggung soal sempat adanya friksi di tubuh partai pengusung lawan petahana yakni Demokrat yang ditinggalkan Ketua DPC Wahyu Megahita, menurut dia hal itu mungkin bisa berdampak secara komunitas kecil. Sebab jika bicara pengaruh pilkada bukan soal partai yang bergerak tapi tim sukses, jika ada gerbong yang keluar dari partai tidak ada garansi gerbong tersebut akan ikut.

“Tapi imbasnya pasti ada, kan bisa kita katakan politik hari ini bukan politik masa tapi komunitas. Misal komunitas ketua DPD terbentuk beberapa wilayah dan bisa mengkonsolidasikan orang-orang ke bawah keluar saya keluar itu bisa terjadi tapi tidak ada garansi. Karena beberapa pilkada Indonesia DPP mau apa dan DPC mau apa tidak menjadi kisruh dukungan, tapi pilkada sudah dikonsolidasikan kepada calon pemilih itu sudah sejak jauh hari, partai hanya jembatan untuk dapat tiket,” ucapnya.

Pada intinya kata dia, pasangan petahana masih kuat hal itu berdasarkan perjalanan yang telah dilakukan selama kepemimpinannya. “Masih kuat (petahana), karena Bu Tatu saya membaca dalam perjalanan, saya sering

kunjungan beberapa wilayah karena ada daerah pengabdian di kampus Bu Tatu ini dianggap dekat dengan warga kemudian dari segi infrastruktur jalan sudah bekerja. Ada yang sudah dilakukan beliau jadi tinggal masalahnya apakah warga yang pernah dibantu diperbaiki jalannya mau memberikan tanda terimakasih. Itu tidak ada garansi tapi Bu Tatu sudah pegang struktur dibanding Pak Nasrul – Eki, hanya pak Nasrul – Eki bergerak di bidang sosial apa yang sudah dilakukan Pak ATN bisa digandeng kembali itu bisa jadi kekuatan,” tuturnya.***(Humas-SAF)

Sumber: https://kabarbanten.pikiran-rakyat.com/