SELAMAT JALAN PAHLAWAN PENDIDIKAN-KU

Tulisan ini saya tulis di Bandara Sukarno Hatta sambil saya menunggu pesawat yang akan menerbangkan saya ke kota Makassar. Perjalanan masih Panjang karena dari Kota makassar masih akan melanjutkan perjalanan kurang lebih 90 Km menuju kabupaten Jeneponto. Dalam perjalanan selalu muncul rasa kesedihan dan belas kasihan pada adik saya almarhumah Hj. Hairani Daeng Ngia. Beliau sangat memiliki jasa yang tidak terbatas maknanya dan tidak bisa dihitung dengan jari dan mungkin tidak dapat dihitung dalam sebuah materi. Beliau memiliki rasa kasih sayang yang sangat mendalam pada diri saya. Beliau bukan hanya berkorban atas harta dan materi untuk mewujudkan mimpi saya dalam melanjutkan study, namun lebih dari itu beliau sering memberikan saya motivasi ditengah keterbatasan hidup keluarga kami.

Beliau sangat memiliki jasa yang tidak terbatas maknanya dan tidak bisa dihitung dengan jari dan mungkin tidak dapat dihitung dalam sebuah materi.

Masa SMA

Masa SMA-KU Masa saya sekolah SMA, saya dan adik saya ditipkan pada keluarga kami, karena jarak sekolah dan rumah kami sangat jauh dan harus ditempuh dengan angkutan umum. Adik saya baru menamatkan sekolah dasar dan terpisah dengan keluarga saya dan juga dengan saya. Tinggallah kami dalam satu rumah, dan adik saya mengurus segala keperluan saya, mulai dari makan hingga pada seragam dan bahkan merapihkan buku-buku saya. Setiap pagi saya selalu berangkat bareng dengan berjalan kaki kurang lebih 6 kilometer dan adik saya selalu mengatakan bahwa kakak harus belajar keras dan melanjutkan sekolahnya yah?, kalau perlu kakak harus melebihi pendidikannya dari kepala sekolah. Uang jajan adik saya, selalu disimpan baik-baik, hanya untuk membantu saya apabila saya membutuhkan untuk membeli buku pelajaran untuk saya. Selama tiga tahun saya menamatkan SMA dan adik sayapun menamatkan SMP dan masuk SMA I Jeneponto dan beliau tetap tinggal di rumah keluarga kami. Saya terpisah jauh dengan beliau, karena saya akan melanjutkan studi ke kota Makassar.

Setiap pagi saya selalu berangkat bareng dengan berjalan kaki kurang lebih 6 kilometer dan adik saya selalu mengatakan bahwa kakak harus belajar keras dan melanjutkan sekolahnya yah?

Masa Kuliah Sarjana

Semasa Kuliah strata satu Diawal saya melanjutkan kuliah di IAIN Alauddin (Sekarang UIN Alaudin makassar) saya selalu bertemu ketika lebaran karena saya pulang kampung dan atau pada saat musim tanam saya selalu menyempatkan pulang dan pasti bertemu di Jeneponto dan selalu berbagi informasi tentang studi. Tiga tahun kemudian di tahun 1997 adik saya menyelesaikan studi dan melanjutkan studi ke Kota Makassar. Untuk menghemat biaya pembayaran kost adik saya mau mengalah untuk jauh dari kampusnya dan jalan kaki. Saat itu adik saya melanjutkan studi di universitas Muhammadiyah makassar (Unismuh). “betapa beliau mau mengalah lagi” dia hanya bilang tidak apa-apa kak jauh dari kampus yang penting kita sama-sama tinggal.Memasuki semester kedua, adik saya terpaksa harus pulang karena ibu saya sakit keras dan membutuhkan perawatan, dan adik saya mengalah lagi dan akhirnya putus kuliah. Saat itu ada dua pilihan apakah kuliah atau merawat ibu, dan dengan tegas adik saya bilang harus mendampingi ibu. Saat itu banyak teman-temannya yang menyayangkan berhenti, karena adik saya terbilang sangat aktif dikampusnya dan memiliki prestasi kuliah yang sangat menonjol.

Masa kuliah Pascasarjana

Semasa Saya Di Pascasarjana Tahun 2000 saya melanjutkan studi di Universitas Hasanuddin adik saya pun memberikan motivasi yang tinggi. Waktu itu adik saya memiliki keinginan untuk melanjutkan studi di STKIP kabupaten jeneponto. Sewaktu saya pulang kampung adik saya menyampaikan keinginanannya untuk studi lanjut. Akhirnya adik saya melanjutkan studinya hingga selesai pada program Diploma tiga (Ahli Madya Pendidikan). Melanjutkan studi di kabupaten namun setiap ada tugas-tugas kuliahnya selalu meminta saya membantunya terutama mencarikan buku-buku referensi. Saya membelikan buku setiap yang dibutuhkannya agar motivasi studinya juga semakin tinggi. Adik saya selalu bilang, walaupun saya hanya sekolah di Kabupaten, namun kakak harus tetap maju untuk studi lanjutnya. “Sebagai adik saya sangat bangga kakak bisa lanjut studi yang tinggi”Menuju Bandung Tahun 2003 saya melanjutkan studi di Kota Bandung, adik saya saat itu masih dikampung halaman dan tidak lama kemudian menikah dan tinggal di Kota Makassar. Komunikasi terus berjalan melalui telepon karena sudah hampir tidak bertemu secara langsung kalaupun bisa hanya dalam sekali setahun. Selama saya dibandung adik saya selalu menitipkan pesan agar hati-hati dan belum bisa memberikan biaya yang banyak untuk kakak. Dia sangat mengerti betapa keterbatasan finansial yang saya miliki, namun semangatnya untuk saya sangat tinggi. Semester tiga, saya pernah menyampaikan keinginan saya untuk mundur, karena tidak mampu membayar SPP, adik saya bilang “jangan kak kalau masih ada kesempatan yang bisa ditempuh” beliau memberikan solusi atas keterbatasan saya, walaupun saya tau bahwa dia juga sangat terbatas dalam segala hal apalagi dari segi materi. Tahun 2006-2007 saya bolak balik bandung-makassar dalam rangka penelitian disertasi saya, dan tentunya saya sangat membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Adik saya memiliki solusi agar semua bisa berjalan dengan baik kegiatan riset saya. “Adik saya memiliki kalung, cincin dan gelang emas lalu menjualnya untuk menutupi kebutuhan operasional selama saya riset disertasi saya. Hingga saya menyelesaikan studi saya tahun 2008 dengan penuh kebanggaan. Selamat jalan adikku sayang, adiklah adalah pahlawan dalam perjalanan studiku. Hingga saat ini saya memang belum bisa memberikan yang terbaik dalam hidupmu dan saya belum bisa membalas atas segala jasa-jasamu. Memang kita jarang bertemu karena jarak, waktu, kesibukan dan mungkin ada lagi hal yang lainnya. Dan lebih sangat menyedihkan lagi saya tidak dapat berada di sampingmu dan di sisimu saat menghadap sang khalid, Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, karena kondisi Pandemi Covid-19 negeri ini, sehingga ruang gerak sangat terbatas untuk penerbangan Bandar Lampung Menuju Makassar. Adikku, kakak sangat sedih dan tidak berhenti menangis dalam perjalanan dan selalu mendoakan agar adikku diberikan tempat yang layak di Sisi Allah SWT khusnul Khotimah dan dibukakan syurga untukmu adikku dan bertemu anak-anak bidadarimu di alam syurga sana.

SELAMAT JALAN PAHLAWAN PENDIDIKAN-KU, SUATU SAAT NANTI AKAN ADA MONUMEN UNTUKMU ADIKKU UNTUK MENGENANG JASA-JASAMU TERHADAP DIRIKU (KAKAKMU) YANG TIDAK DAPAT TERBALASKAN HINGGA AKHIR HAYATMU.

Hairani Daeng Ngia Binti Sila AmiruddinUSIAMU 1978-2020