Soal Stok Pangan, Harusnya Belajar Dari Kehebatan Ibuku

Akhir tahun 2020 saya balik kampung halaman saya di Kabupaten Jeneponto Sulawesi Selatan, sekitar 90 KM arah Selatan Kota Makassar karena waktu itu adik saya berpulang ke Rahmatullah Almarhumah Hj. Hairani daeng Ngia binti H. Amiruddin Daeng Sila dan saya pun banyak berbincang-bincang dengan ibu saya dan ibu saya menyampaikan rasa yang  sangat kehilangan atas berpulangnya adik saya.

Ibu saya seorang petani yang sangat tekun, ulet dan konsisiten. Berkat kerja kerasnya hasil taninya itulah sangat membantu perekonomian keluarga kami. Sekitar awal tahun 1980-an merupakan tahun yang sangat potensi hasil taninya dan bahkan mampu menyekolahkan anak-anaknya. Berkat hasil pertanian baik ladang maupun sawah menjadi andalan penghasilan keluarga, dan hingga saat ini ibuku tetap tekun menjadi petani walaupun usianya sudah menginjak 70-an tahun.

Ibu saya cerita bahwa masa tanam tahun ini dianggap akan baik karena curah hujan yang berimbang “antara suhu hujan dan panas matahari”, kegembiraan menyambut masa tanam padi sudah tergambarkan dari cara bicaranya dan wajahnya yang sangat sembringah. Kondisi sawahnya sangat baik, walaupun sawahnya tadah hujan, namun curah hujan tahun ini sangat membantu pengairan sawah ibu saya. Perkataan ibu saya pun sangat optimis bahwa panen padi tahun ini diprediksi secara iklim lumayan menjanjikan.

Optimisme seorang petani akan hasil panennya. Tentu berbanding lurus dengan penghasilannya dan akan berbanding lurus pula dengan pendapatan keluarga tahun ini. Rasa senang gembira dan bahagia bahwa hasil panen tahun ini akan bisa membantu pembiayaan kebutuhan keluarga dan termasuk pembiayaan bagi anak-anaknya yang saat ini menempuh kuliah di perguruan tinggi (=untuk keluarga lainnya yang masih menyekolahkan anak-anaknya). Cita-cita mulia seorang petani seorang ibu yang selalu memikirkan ketahanan ekonomi keluarganya agar tetap stabil walaupun hasil panen musiman.

Panen musiman yang dihadapi oleh petani dan termasuk ibu saya, merupakan suatu berkah tersendiri diberikan oleh sang pencipta, bahwa kalau tidak ada aral melintang panen tahun 2021 ini akan menghasilkan produksi hasil panen yang sangat surplus. Prediksi ibu saya sebagai petani masuk akal dan mungkin juga logika keilmuan pertanian, walaupun beliau tidak mengenyam pendidikan tinggi, namun pengalamannya akan menjadi sebuah eksperimen tolak ukur tentang keberhasilan musim masa panen bagi petani.

Bahkan menteri pertanian pun mengatakan bahwa tahun ini stok pangan beras akan aman dan terkendali karena petani akan memasuki masa panen yang baik. Prediksi menteri pertanian itu, sama juga dengan prediksi ibu saya yang sudah memprediksi sebelum masuk masa panen, dan bahkan ibu saya prediksinya masa awal masuknya masa tanam. Artinya secara logika intelektual bahwa tahun ini merupakan tahun yang sangat aman untuk produksi pangan beras. Indikator yang digunakan oleh menteri pertanian dan ibu saya itu sama yaitu dukungan alam yang sangat bersahabat, curah hujan tinggi namun hampir tidak ada banjir  pengganggu lahan pertanian dan persawahan.

Saya kira prediksi ibu saya dengan menteri pertanian itu sama, namun saya tidak akan membanding-bandingkan mana yang lebih kritis dan terpercaya, namun yang menjadi persoalan saat ini adalah issu adanya impor beras tahun 2021, walaupun saat ini masih kontroversi antara jadi atau tidak jadi. Bagi pemerintah dan pengambil kebijakan pasti sudah bisa membaca data dan prediksi atas stok pangan beras yang ada saat ini.

Saya dapat kabar dari beberapa media baik cetak maupun elektronik bahwa sebenarnya stok pangan beras hingga saat ini masih tersedia di gudang bulog, dan bahkan informasinya sekitar 900.000 ton masih ada, itu menurut Kepala Bulog dan untuk stok aman harus di atas 1 juta ton. Artinya kalau masih ada stok, berarti masih aman, namun amannya sampai beberapa bulan kedepan, itupun mungkin dikaji oleh pemerintah terkait berapakah kebutuhan beras harus tersedia di negeri ini, dan mengapa perlu penambahan. Hal itu tentunya pemerintah sudah memiliki data terkait kebutuhan pangan beras di negeri ini.

Keputusan pemerintah memang harus berdasarkan data antara produksi dan kebutuhan konsumsi. Sebenarnya mengapa terjadi kontroversi dari berbagai kalangan baik eksekutif maupun legislatif tentang impor, mungkin karena data yang belum sinkronisasi antara keinginan pemerintah bila dikaitkan dengan kebutuhan masyarakat. Jadi yang dibutuhkan setiap kebijakan sebenarnya adalah transparansi agar tidak terjadi perbedaan persepsi antara eksekutif, wakil rakyat dan dengan petani. Apabila semua sinkronisasi maka saya kira persoalan kontroversi perlu impor atau tidak perlu impor  pasti menemukan jalan tengahnya.

Bagi petani seperti ibu saya dalam setahun menghasilkan beras yang jumlahnya sangat besar, dan bahkan ibu saya punya gudang penyimpanan stok gabahnya. Konsumsi beras dikeluarga kami hampir tidak pernah mengalami kekurangan, itu seingat saya. Dan bahkan ibu saya juga punya stok kacang hijau dan jagung digudangnya dan hanya cukup untuk kebutuhan keluarga dan bahkan ibu saya sering juga menyumbangkan pada keluarganya yang menyelenggarakan pesta perkawinan. Karena tradisi di kampung halaman saya gotong royong dalam urusan pesta itu sudah biasa dan menjadi tradisi turun menurun.

Secara sosiologis bahwa dikampung halaman saya pangan merupakan wadah untuk melakukan interaksi soaial antar keluarga dikampung halamanku. Saya patut berbangga pada ibu saya, karena beliau memiliki lembaga ketahanan pangan dalam bidang beras untuk selalu menjaga kemanan pemenuhan kebutuhan beras dilingkungan keluarga kami, dan bahkan tidak pernah menjadi persoalan hingga saat ini. Mengapa bisa terjaga dengan baik, karena ibu saya memiliki gudang penyimpanan pangan yang aman dan prediksi setahun itu cukup. Kehebatan ibu saya tentunya saya tidak mau membandingkan dengan kebijakan negeri ini hingga yang stok pangan dianggap tidak terpenuhi dan bahkan menimbulkan kontoversi perlu impor atau tidak perlu impor.

Mengurus negeri ini memang tidak semudah mengurus keluarga yang area wilayahnya sangat kecil, namun alangkah bagusnya kalau kebijakan yang akan diambil oleh pemerintah, perlu melihat realitas dan kondisi masyarakatnya. Siapa tau kalau banyak menjangkau informasi di masyarakat arus bawah, apalagi pada kalangan petani akan menemukan solusi alternatif yang terbaik untuk negeri ini. Petani di desa merupakan barometer kemajuan negeri ini. Karena itu perlu menghidupak kembali gudang-gudang stok pangan yang dimiliki oleh keluarga petani dan bahkan menghidupkan kembali lumbung keluarga dan lumbung desa sebagai lembaga ketahanan pangan yang pernah mengalami kejayaan di era tahun 1980-an dan saya kira hingga saat ini masih ada namun menghadapi berbagai problematika. Persoalan pangan harus di integrasikan dengan nerapa jumlah stok di petani dan jumlah stok yang ada di lumbung-lumbung keluarga. Memang tidak sederhana mengintegrasikan, namun apabila melibatkan kelompok-kelompok tani dalam mengatasi persoalan pangan di negeri ini saya kira pasti akan teratasi.

Kerja keras pemerintah untuk melakukan pengintegrasian saat ini antara kondisi petani dan ketersediaan lahan produksi pangan sedang berjalan melalui pembukaan lahan dan menyediakan irigasi perlu mendapatkan apresiasi positif bagi masyarakat dan petani tentunya. Lahan produktif, irigasi dan bibit unggul serta teknologi pendukung pertanian lainnya, merupakan startegi yang harus dilakukan untuk mendukung surplus pangan di negeri ini. Semoga apa yang menjadi kerja keras pemerintah dalam emndukung sector pertanian, akan membawa keberkahan untuk kemajuan negeri ini terutama masyarakat yang saat ini hidup dan menetap di kawasan perdesaan dan menggantungkan hidupnya bidang agraris.

Semoga ibuku juga bisa menjadi contoh tauladan keberhasilannya membangun lumbung pangan sebagai penyimpanan kebutuhan pangan keluarga. Ibuku memiliki kebiasaan dalam memprediksi kebutuhan pangan keluarga, sehingga stok pangan pun selalu tersedia di lumbungnya (=digudangnya). Sebagai apresiasi Ibu saya itu sangat hebat.

Suwaib Amiruddin

Sosiolog Untirta